Kekejaman
Papa Berbuah Manis
(Karya Miss Ledom)
Bujang Pematang adalah calon nama
yang akan diberikan oleh Papa ketika aku lahir. Papa sangat gembira memiliki
seorang putri yang kini berusia 9 tahun. Kebahagiannya bertambah ketika
mengetahui bahwa Mama sedang hamil. Papa sangat berharap memiliki anak kedua
seorang laki-laki. Tibalah waktu bersalin bagi Mama dan lahirlah seorang putri
kecil untuk kedua kalinya. Mungkin Papa memiliki perasaan yang campur aduk saat
itu antara bahagia dan kecewa. “Maafkan putrimu yang lahir kedunia ini Pa.”
Kaos coklat berkerah adalah kaos
pertama yang dibelikan Papa untukku ketika kelas 1 SD. Saat itu papa mengajakku
mengunjungi lokasi mengajar yang jauh dari rumah. Kami akan bermalam di sana
namun tanpa persiapan pakaian maka Papa
mampir ke sebuah toko dan memilihkan pakaian untukku. Katanya dengan
postur tubuh yang gendut akan cocok bila mengenakan kaos berkerah. “Terima kasih Papa.”
Malam itu Papa mengajakku berbicara.
Melihat prestasiku yang bagus, Papa merasa bangga. Papa percaya bahwa putri
kecilnya ini memang mewarisi gen dominan darinya. Papa berencana menghadiahkan sepeda untukku.
Sepeda berwarna merah dengan perpaduan warna hitam yang terlihat sangat keren. Mungkin
ini sebabnya aku sangat menyukai perpaduan warna merah dan hitam. Aku berlatih
naik sepeda dengan kesungguhan. Pernah jatuh dan masuk dalam selokan depan
rumah. Papa berlari segera menolongku. “My
Dady My Superhero.”
Tiba suatu masa yang menyedihkan.
Aku kelas 3 SD sudah melewati semester
1. Papa memutuskan untuk mengirimku sekolah di Jawa. Pagi itu aku menangis
berpisah dengan Keluarga kecilku. Nenek, Kakak dan yang paling utama adalah
Mama tercinta. Sungguh hari itu aku
merasa memiliki Papa paling kejam yang memisahkan anak dari orang tuanya. “Papa
sungguh kejam.”
Di
Jawa aku tinggal bersama keluarga besar dari Papa. Kakek, Nenek, Tante, Paman
dan 4 adik laki-laki yang lebih muda dan sangat-sangat nakal. Awal kedatanganku
bersama Papa disambut bahagia oleh mereka. Aku diperlakukan bak tuan putri yang
dijamu dan dilayani dalam istana. Namun, setelah Papa pulang, semuanya berbalik
dan akulah yang harus menjadi pelayan. Kadang kala dalam kenakalan adik-adik itu
aku harus merasakan sakitnya dilempari dengan batu. “Papa, di sini aku sangat
tersiksa.”
Saat
di expor oleh Papa usiaku baru 7 tahun. Terbiasa dengan
pelayanan istimewa dari orang tua. Biasa disiapkan segala kebutuhan oleh Mama. Di
sini tidak ada istilah manja. Aku dibiasakan mandiri. Dengan tangan mungil ini
aku mengerjakan segalanya sendiri. Mengerjakan segala pekerjaan rumah dan
memenuhi kebutuhan sendiri. Menyapu lantai tiap pagi, mencuci perabotan,
menimba air tiap sore harus naik turun tangga,
membantu simbah masak, memanggul sayuran busuk untuk makanan ikan di
sawah pergi dengan berjalan kaki. Menyetrika seragam sekolah milikku dan milik
adik-adikku kadang aku harus merasakan panasnya setrika karena tidak ada yang
mengajariku menggunakannya. Mencuci baju
dan seragam sendiri. Aku tidak tau itu sudah bersih atau masih kotor. Seragam
yang kupakai tidak pernah ganti hingga aku lulus SD. Kadang kala aku iri dengan
adik-adikku yang mempunyai seragam lebih dari satu. “Papa, anakmu diperlakukan
berbeda.”
Seluruh
keluarga besar Papa mengakui kemahiranku dibidang akademik sekolah namun tidak
untuk pekerjaan rumah. Bagi mereka, apa yang aku kerjakan selalu salah. Setiap
kali merasa sedih, aku hanya bisa mengunci pintu kamar kemudian menagis
sejadinya tanpa bersuara. Hanya itu yang
dapat aku lakukan sebagai seorang anak kecil tanpa teman bicara, tanpa
keluarga. “Papa, hari-hariku berakhir dengan air mata.”
Aku
lulus sekolah dasar mendapat juara 3. Tiket berharga yang akan menghantarkan
aku masuk SMP. Selama SMP aku tinggal bersama Paman dan Bibi. Paman adalah adik
ke 3 Papa. Disini lebih banyak lagi masalah yang aku terima. Lebih banyak
kekacauan yang aku perbuat. Bahkan aku sempat kabur dari rumah karena depresi
dan tinggal semalam di rumah guru les yang letaknya jauh dari rumah. Seluruh
anggota keluarga berusaha mencariku. “Papa, maaf anakmu membuat malu
keluargamu.”
Selama
6 tahun menjalani pendidikan di Jawa, hanya 1 kali dikunjungi oleh kelurga
kecilku tepatnya ketika aku kelas V SD. Aku bingung antara harus bahagia atau
berduka. Aku tak lagi merasakan kedekatan anatara Papa dan anak. Aku sudah lupa
rasanya harus hormat pada Papa. Aku lebih suka menyendiri dan mengahbiskan
waktu bersama keluarga baru yang sepenuhnya menanggung hidupku. “Papa, anakmu
sudah lupa semuanya.”
Perjuangan
semasa SMP membuat diriku tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Selama tiga tahun
menempuh pendidikan, aku selalu masuk dalam kelas unggulan. Aku harus pandai
membagi waktu antara membantu pekerjaan Paman dan Bibi juga belajar. Well, aku mampu melaluinya dengan baik.
Papa
datang ke Jawa untuk menghadiri kelulusanku. Aku hanya berharap dapat
memberikan yang terbaik untuk orang tua. Meskipun aku tak yakin bahwa orang tua
kandungku benar-benar menyayangiku. Nyatanya mereka memilih membesarkan Kakak
dan Adikku. Semua wali murid duduk di barisan paling depan. Papa tepat duduk di
belakang Kepala Sekolah.
Juara
10-2 sudah disebutkan. Semua siswa memandang ke arahku karena siswa yang
biasanya mendapat juara 1 sudah maju ke depan dan menempati posisi kedua.
“Juara
1 Ujian Nasional SMP N 1 Srumbung diraih oleh ananda........ Miss Ledom.". Kepada Orang Tua dan ananda silakan naik ke atas panggung.”
Aku
melihat ke arah Papa. Beliau tersenyum bahagia. Segera berdiri dan memberikan
tepuk tangan untukku. Aku dan Papa menuju ke panggung diiringi sorak sorai dari
siswa lain. Muncul rasa puas karena kedatangan Papa tidak sia-sia. Rupanya di
atas panggung, Papa bertemu dengan kawan lama. Ia adalah Papa dari kawan
karibku. “Dunia selebar daun kelor”. Setelah menerima hadiah dan berfoto, kami
menuju ke tempat duduk masing-masing. “Papa bangga kan?”
Rupanya
masih ada kejutan dari Bapak dan Ibu Guru. UN tahun ini ada 5 siswa yang
mendapat nilai sempurna untuk mata pelajaran Matematika.
“Siswa
yang memperoleh nilai 10 mata pelajaran
matematika adalah ...... Miss Ledom
Lagi,
lagi, dan lagi. Aku dan Papa naik ke atas panggung. Suatu kebahagiaan bagiku dapat memberikan kehormatan bagi Papa.
Papa tidak pernah cerita alasan mengirim dan membiarkan aku hidup di Jawa
selama 6 tahun. Tapi itu semua berbuah manis. Banyak pelajaran hidup yang aku
dapat. Ilmu dari pendidikan formal di sekolah dan live skill dari pendidikan nonformal bersama keluarga. Mereka tidak
pernah memanjakan diriku kecuali saat sakit parah. Mereka melatih fisik,
kepribadian, juga mental agar aku menjadi pribadi yang lebih baik.
Terima
kasih Papa. Keputusan untuk mengexpor diriku ke Jawa saat itu adalah
kebijaksanaan. Kini aku merasakan buah manis dari pengalaman berharga. Suatu
kebanggaan bagiku merasakan pendidikan di Jawa. Ilmu itu sangat berharga selama
aku menjalani masa pendidikan di Sumatra. I
Love You, Dad.
Komentar
Posting Komentar